Pesarean Joko Tingkir di Lamongan

0

Tempat Romantis – Pesarean Joko Tingkir di Lamongan “kulo taksih ndamel kaos sang-sang roweh-roweh naliko Gus Dur Rawuh”, /saya masih memakai kaos dalam robek-robek saat Gus Dur Datang Kesini/ kenang Mbah Adekan (74 tahun)  mengenang kehadiran Gus Dur di pemakaman kuno Mbah Anggung Boyo, di dukuh Dukoh Desa Pringgoboyo Kecamatan Maduran Kab Lamongan Jatim. Peristiwa itu terjadi menjelang naiknya Gus Dur menjadi Presiden tahun 1999 (manjing keprabon) 

Pesarean Joko Tingkir di Lamongan

 

Mbah Adekan mengingat perjuangannya dulu membersihkan lahan pemakaman kuno dan angker tersebut yang disesaki rumput liar. Dulu tidak ada warga yang berani melewati area tersebut di malam hari.  Angker banget, katanya. Semua warga saat itu tahunya itu adalah makam Mbah Anggung Boyo dan para pengikutnya. Dengan nisan-nisan kuno, angker, terpencil dan tak terjamah.

Pesarean Joko Tingkir di Lamongan
Kehadiran Gus Dur tahun 1999 memberikan nama baru dan makna baru untuk makam tersebut.  Bahwasanya Mbah Anggung Boyo sejatinya adalah Joko Tingkir aka mas karebet aka Sultan Hadiwijaya dari kerajaan Islam Pajang.

Pesarean Joko Tingkir di Lamongan

Sejak kehadiran Gus Dur itu pula pemakaman menjadi spot ziarah yang penting.  Fasilitas dibenahi, musholla dan masjid didirikan.  Pada bulan-bulan tertentu (maulid) dilaksanakan haul yang ramai dikunjungi peziarah.

Gus Dur bukan hanya sekali datang ke makam Joko Tingkir tersebut. Mbah Adekan merekam dua kali kehadiran Gus Dur.  Yang kedua adalah ketika Gus Dur sudah dilengserkan dan menjelang Pemilu (kemungkinan besar tahun 2004). Fakta ini menyibak satu pemikiran bahwa makam ini sungguh penting artinya bagi Gus Dur karena Joko Tingkir adalah salah satu figur istimewa di mata Gus Dur.
Bahkan beliau beberapa kali menyebutkan dirinya adalah keturunan dari Joko Tingkir. Dan bahwa seluruh kiai-kiai di Jawa adalah berasal dari trah Tingkir,  penjelasan Gus Muwaffiq dalam satu pengajian yang diunggah di YouTube.
Dalam satu ceramah Gus Dur menceritakan makna tembang Sigro Milir, tentang perjalanan Joko Tingkir kembali ke Pajang dari Sumenep Madura melalui Bengawan Solo naik getek/perahu untuk menuntut balas setelah dikalahkan anak angkatnya sendiri, Sutowijoyo raja pertama Mataram.
Dengan keyakinan membumbung berbekal 40 jenis ilmu kanuragan ajaran ibundanya di Sumenep. Ketika bermalam di Public lau Pringgoboyo (saat itu masih ada pulau-pulau kecil di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo) Joko Tingkir mendapatkan pesan yang kuat untuk tidak melanjutkan perjalanannya ke Pajang menuntut balas politik yang tiada habisnya.
“Lebih baik engkau membangun agama dan masyarakat, ketimbang berlarut dalam pertarungan kekuasaan melawan ilmu setan” pesan dari pesan kuat tersebut. Sejak itulah Joko Tingkir bermukim di Pringgoboyo hingga akhir hayat. Wallahu A’lam bishawab.
Banyak Cara Mengingat dan Menghormat Masa Lalu
Ziarah Salah Satunya
#SalamZiarah.
Penulis SJ. Arifin

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.